01 Juni 2011

Mineral Dalam Batuan

God Bless Us

BAB    I

PENDAHULUAN

 

1.1  LATAR BELAKANG
Pembentukan berbagai macam mineral di alam akan menghasilkan berbagai jenis batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bisa berbeda-beda dan membentuk jenis batuan yang berbeda pula. Pembekuan magma akan membentuk berbagai jenis batuan beku. Batuan sedimen bisa terbentuk karena berbagai proses alamiah, seperti proses penghancuran atau disintegrasi batuan, pelapukan kimia, proses kimiawi dan organis serta proses penguapan/ evaporasi. Letusan gunung api sendiri dapat menghasilkan batuan piroklastik. Batuan metamorf terbentuk dari berbagai jenis batuan yang telah terbentuk lebih dahulu kemudian mengalami peningkatan temperature atau tekanan yang cukup tinggi, namun peningkatan temperature itu sendiri maksimal di bawah temperature magma.

1.2  MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dibuatnya paper ini adalah agar kita lebih mengetahui jenis-jenis mineral yang ada dalam batuan dan mengerti tentang mineral yang terkandung dalam batuan-batuan serta proses-proses pembentukan mineral dalam batuan.


 

BAB II

DASAR TEORI

 

2.1 MINERAL DALAM BATUAN

2.1.1 Mineral Dalam Batuan Beku

Magma dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku di bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku ekstrusif.
Batuan Beku Dalam                                                                                                  
Magma yang membeku di bawah permukaan bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya.
Bentuk-bentuk batuan beku yang memotong struktur batuan di sekitarnya disebut diskordan, termasuk di dalamnya adalah batholit, stok, dyke, dan jenjang volkanik.
Batholit, merupakan tubuh batuan beku dalam yang paling besar dimensinya. Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batolit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batholit. Beberapa batholit mencapai lebih dari 1000 km panjangnya dan 250 km lebarnya. Dari penelitian geofisika dan penelitian singkapan di lapangan didapatkan bahwa tebal batholit antara 20-30 km. Batholite tidak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan, karena tidak ada rekahan yang sebesar dimensi batolit. Karena besarnya, batholit dapat mendorong batuan yang di1atasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat tertekan ke atas oleh magma yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmen-fragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stopping. Blok-blok hasil stopping lebih padat dibandingkna magma yang naik, sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini bereaksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tidak semua magma terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap frgamen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan Xenolith.
Stock, seperti batolit, bentuknya tidak beraturan dan dimensinya lebih kecil dibandingkan dengan batholit, tidak lebih dari 10 km. Stock merupakan penyerta suatu tubuh batholit atau bagian atas batholit.
Dyke, disebut juga gang, merupakan salah satu badan intrusi yang dibandingkan dengan batholit, berdimensi kecil. Bentuknya tabular, sebagai lembaran yang kedua sisinya sejajar, memotong struktur (perlapisan) batuan yang diterobosnya.
Jenjang Volkanik, adalah pipa gunung api di bawah kawah yang mengalirkan magma ke kepundan. Kemudaia setelah batuan yang menutupi di sekitarnya tererosi, maka batuan beku yang bentuknya kurang lebih silindris dan menonjol dari topografi disekitarnya.
Bentuk-bentuk yang sejajar dengan struktur batuan di sekitarnya disebut konkordan diantaranya adalah sill, lakolit dan lopolit.
Sill, adalah intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dan sisi-sisinya sejajar.
Lakolit, sejenis dengan sill. Yang membedakan adalah bentuk bagian atasnya, batuan yang diterobosnya melengkung atau cembung ke atas, membentuk kubah landai. Sedangkan, bagian bawahnya mirip dengan Sill. Akibat proses-proses geologi, baik oleh gaya endogen, maupun gaya eksogen, batuan beku dapt tersingka di permukaan.
Lopolit, bentuknya mirip dengan lakolit hanya saja bagian atas dan bawahnya cekung ke atas.
Batuan beku dalam selain mempunyai berbagai bentuk tubuh intrusi, juga terdapat jenis batuan berbeda, berdasarkan pada komposisi mineral pembentuknya. Batuan-batuan beku luar secara tekstur digolongkan ke dalam kelompok batuan beku fanerik.
Batuan Beku Luar                                                                                                     
Magma yang mencapai permukaan bumi, keluar melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan ekstrusif. Keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan disebut sebagai fissure eruption. Pada umumnya magma basaltis yang viskositasnya rendah dapat mengalir di sekitar rekahannya, menjadi hamparan lava basalt yang disebut plateau basalt. Erupsi yang keluar melalui lubang kepundan gunung api dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melaui lereng, sebagai aliran lava atau ikut tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung apda komposisi magmanya dan tempat terbentuknya.
Apabila magma membeku di bawah permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), dinamakan demikian karena pembentukannya di bawah tekanan air.
Dalam klasifikasi batuan beku batuan beku luar terklasifikasi ke dalam kelompok batuan beku afanitik.




Klasifikasi Batuan Beku                                                                    
Pengelompokan atau klasifikasi batuan beku secara sederhana didasarkan atas tekstur dan komposisi mineralnya. Keragaman tekstur batuan beku diakibatkan oleh sejarah pendinginan magma, sedangkan komposisi mineral bergantung pada kandungan unsure kimia magma induk dan lingkungan krsitalisasinya.
Tekstur Batuan Beku                                                                            
Beberapa tekstur batuan beku yang umum adalah:                                              
1. Gelas (Glassy), tidak berbutir atau tidak memiliki Kristal (amorf)
2. Afanitik (fine grained texture), bebrutir sangat halus à hanya dapat dilihat dengan mikroskop
3. Fanerik (coarse grained texture), berbutir cukup besar sehingga komponen mineral pembentuknya dapat dibedakan secara megaskopis.
4. Porfiritik, merupakan tekstur yang khusus di mana terdapat campuran antara butiran-butian kasar di dalam massa dengan butiran-butiran yang lebih halus. Butiran besar yang bentuknya relative sempurna disebut Fenokrist sedangkan butiran halus di sekitar fenokrist disebut massadasar.
Secara ringkas, klasifikasi batuan beku dapat dinyatakan sebagai berikut:

            Tabel 2.1.1 klasifikasi batuan beku

 


Komposisi Mineral

Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
• Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.
• Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.
Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya.
Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:
• Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.
• Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.
• Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.
Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:
• Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit.
• Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah dasit.
• Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit.
• Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt.
Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu:
• Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
• Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik.
• Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.
Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut:
• Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.
• Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.
• Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.
• Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.

       2.1.2 Mineral Dalam Batuan Sendimen                                                          
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian terlithifikasi.
Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi.
Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan:
1. Batuan sedimen klastik à terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral
2.  Batuan sedimen kimiawi à terbentuk karena penguapan, evaporasi
3. Batuan sedimen organic à terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan
Klasifikasi batuan sedimen klastik adalah berdasarkan besar butirnya, oleh karenanya digunakan skala Wentworth. Sedangkan untuk klasifikasi batuan sedimen kimiawi dilakukan berdasarkan matriks maupun fragmennya dengan klasifikasi dari Dunham, Embry-Klovan.

 

      2.1.3 Mineral Dalam Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah jenis batuan yang secara genetis terebntuk oleh perubahan secara fisik dari komposisi mineralnya serta perubahan tekstru dan strukturnya akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T) yang cukup tinggi. Kondisi-kondisi yang harus terpenuhi dalam pembentukan batuan metamorf adalah:
· Terjadi dalam suasana padat
· Bersifat isokimia
· Terbentuknya mineral baru yang merupakan mineral khas metamorfosa
· Terbentuknya tekstur dan struktur baru.
Proses metamorfosa diakibatkan oleh dua factor utama yaitu Tekanan dan Temperatur (P dan T). Panas dari intrusi magma adalah sumber utama yang menyebabkan metamorfosa. Tekanan terjadi diakibatkan oleh beban perlapisan diatas (lithostatic pressure) atau tekanan diferensial sebagai hasil berbagai stress misalnya tektonik stress (differential stress). Fluida yang berasal dari batuan sedimen dan magma dapat mempercepat reaksi kima yang berlangsung pada saat proses metamorfosa yang dapat menyebabkan pembentukan mineral baru. Metamorfosis dapat terjadi di setiap kondisi tektonik, tetapi yang paling umum dijumpai pada daerah kovergensi lempeng.
Jenis-jenis metamorfosa adalah:
*Metamorfosa kontak à dominan pengaruh suhu
*Metamorfosa dinamik à dominan pengaruh tekanan
*Metamorfosa Regional à kedua-duanya (P dan T) berpengaruh

gambar 2.1.3a jenis-jenis metamorfosa

Fasies metamorfosis dicirikan oleh mineral atau himpunan mineral yang mencirikan sebaran T dan P tertentu. Mineral-mineral itu disebut sebagai mineral index. Beberapa contoh mineral index antara lain:
· Staurolite: intermediate à high-grade metamorphism
· Actinolite: low à intermediate metamorphism
· Kyanite: intermediate à high-grade
· Silimanite: high grade metamorphism
· Zeolite: low grade metamorphism
· Epidote: contact metamorphism
Pada prinsipnya batuan metamorfosa diklasifikasikan berdasarkan struktur. Struktur foliasi terjadi akibat orientasi dari mineral, sedangkan non-foliasi yang tidak memperlihatkan orientasi mineral. Foliasi merujuk kepada kesejajaran dan segregasi mineral-mineral pada batuan metamorf yang inequigranular.
Batuan metamorf befoliasi membentuk urutan berdasarkan besar butir dan atau berdasarkan perkembangan foliasi. Urut-urutannya adalah: slate à phyllite à schist à gneiss. Selain menunjukkan besar butir dan derajat foliasi urut-urutan ini juga menunjukkan kandungan mika yang semakin banyak dari kiri ke kanan. Salah satu ciri khas batuan metamorf yang dapat teridentifikasi adalah kenampakkan kilap mika.
Sedangkan, untuk batuan metamorf non-foliasi contohnya adalah marmer, kuarsit dan hornfels.
Sementara itu, untuk tekstur mineral pada batuan metamorfosa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
· Lepidoblastik : terdiri dari mineral-mineral tabular/pipih, misalnya mineral mika (muskovit, biotit)
· Nematoblastik : terdiri dari mineral-mineral prismatik, misalnya mineral plagioklas, k-felspar, piroksen
· Granoblastik : terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional), dengan batas-batas sutura (tidak teratur), dengan bentuk mineral anhedral, misalnya kuarsa.
· Tekstur Homeoblastik : bila terdiri dari satu tekstur saja, misalnya lepidoblastik saja.
· Tekstur Hetereoblastik : bila terdiri lebih dari satu tekstur, misalnya lepidoblastik dan granoblastik 

gambar 2.1.3b tekstur mineral


2.2 MINERAL-MINERAL ALTERASI

Alterasi = Metasomatisme
Merupakan perubahan komposisi mineralogy batuan (dalam keadaan padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam.
Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, tidak selayaknya metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat mengubah komposisi mineralogy batuan.

gambar 2.2 proses alterasi

Beberapa contoh mineral alterasi antara lain:
· Kalkopirit
· Pirit
· Limonit
· Garnierit
· Epidote
· Malakit
· Khlorit
· Orphiment
· Realgar
· Galena


BAB III

KESIMPULAN

Batuan terbentuk dari kombinasi dari satu atau lebih mineral yang biasanya terdiri dari unsur seperti oksigen, karbon, dan besi. Saat ini dikenal sekitar 3.000 jenis mineral yang berbeda di bumi. Berdasarkan kandungan mineral yang terdapat di dalamnya, teksturnya, serta strukturnya, batuan dibedakan menjadi tiga jenis.
            Pertama, batuan bekuan tercipta sebagai hasil proses pendinginan bahan cair pijar yang berasal dari dalam bumi (magma). Batu jenis ini biasanya berbentuk hablur, tidak berlapis-lapis, dan tidak mengandung fosil. Berdasarkan cara terjadinya, batuan jenis ini terbagi atas batuan beku plutonik dan vulkanik.
            Kedua, batuan endapan merupakan hasil proses pengendapan rombakan batuan yang diangkut oleh air (sungai) dan terendapkan pada suatu cekungan seperti laut, danau, sungai, atau rawa. Oleh sebab itu, batuan jenis ini biasanya berlapis-lapis dengan ketebalan yang berbeda, mulai dari beberapa sentimeter hingga beberapa meter. Batuan jenis ini tidak berhablur dan seringkali mengandung fosil binatang atau tumbuhan. Karena cara terbentuknya yang unik, batuan jenis ini biasanya dibedakan berdasarkan umurnya.
            Ketiga, batuan malihan atau metamorf berasal dari batuan bekuan dan batuan endapan yang terubah susunan mineralnya atau batuan malihan yang terubah ulang. Pemalihan susunan mineral disebabkan karena tekanan gerakan bumi dan mendapat panas yang sangat tinggi saat terjadi pergerakan bumi. Batuan jenis ini memiliki tekstur yang sangat padat dan kedap air.

Studi Kasus B.A Flufial

God Bless Us


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Maksud
Paper ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif dari kejadian-kejadian Fluviatil yang ada di daerah Jakarta dan sekitarnya.
                                                                                              
1.2 Tujuan
·         Mengetahui dampak negatif yang terjadi pada peristiwa Fluviatil.
·         Mengetahui solusi untuk menangani dampak negatif dari peristiwa Fluviatil.



BAB II
ARTIKEL

            Kali Pesanggrahan adalah salah satu kali atau sungai besar yang melintasi wilayah DKI Jakarta. Kali ini mengalir tepat di sebelah ITC Cipulir Mas dan Pasar Cipulir. Sehubungan dengan rendahnya dataran di wilayah ini, maka pasar Cipulir dan sekitarnya sering sekali terkena banjir tahunan maupun banjir besar lima tahunan yang terjadi sekitar bulan Februari 2002 dan 2007. Pada kejadian banjir sebelumnya, pusat grosir tekstil ini harus tutup selama berhari-hari karena air terus menggenangi wilayah ini. Setelah air surut pun para pedagang banyak menderita kerugian karena bahan pakaian dan tekstil mereka terendam lumpur sehingga sukar untuk dibersihkan dan terpaksa harus dibuang. Para pedagang mesin dan orderdil yang berada di wilayah tersebut pun mengalami nasib serupa. Pada saat banjir, air menyapu perkakas mereka. Alhasil, peralatan tersebut menjadi rusak dan tidak dapat digunakan lagi akibat terendam air.

            Kali Pesanggrahan yang melintasi Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meluap akibat turunnya hujan deras, Rabu (25/10) sore. Akibatnya, puluhan rumah warga di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, terendam air setinggi satu meter. Menurut keterangan salah seorang warga yang rumahnya kebanjiran, Dailami, warga RT 04 RW 08, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota tangsel,  hujan deras turun di wilayah itu sejak pukul 16.00 WIB. Akibat hujan deras itu, lanjut Dailami, puluhan rumah  terendam banjir terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. “Banjir disebabkan meluapnya air Kali Pesanggrahan yang tidak sanggup menampung banyaknya volume air hujan,” ujar Dailami saat dihubungi Republika, Senin (25/10) malam. Dailami mengatakan, tinggi genangan air akibat luapan air Kali Pesanggrahan itu mencapai satu meter. Menurutnya, pada saat banjir itu, sebagian warga ada yang mengungsi keluar rumah dengan mambawa barang-barang berharga seperti televisi dan alat-alat elektronik lainnya untuk mencari tempat yang lebih aman. Namun, banjir itu tidak berlangsung lama. Sekitar pukul 19.30 WIB, genangan air sudah surut dan warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Menurut Dailami, setiap hujan deras turun, pemukiman warga yang letaknya tidak jauh dari Kali Pesanggrahan dan Bendungan Situ Gintung itu selalu tergenang air. Menurutnya, genangan air itu bisa disebabkan oleh meluapnya Kali Pesanggrahan atau kadang-kadang juga disebabkan karena meluapnya saluran air dari Bendungan Situ Gintung.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1       Dampak negatif dari Kali Pesanggrahan.
            Kali pesanggrahan ini sering meluap, karena terdapat di daerah dataran yang rendah. Di daerah yang di lewati kali tersebut, tidak hanya dapat ditemui daerah pemukiman, tetapi banyak berdirinya kegiatan perekonomian. seperti Cipulir yang merupakan pusat penggerak ekonomi bagi wilayah sekitarnya dan Kebayoran lama. Banjir akan semakin memperparah perekonomian di daerah itu. Karena dengan begitu, banyak sekali pihak yang akan di rugikan. Di wilayah kali tersebut juga banyak fasilitas-fasilitas umum yang dapat di jumpai di sekitar nya, seperti sekolah, masjid, makam, pombensin, hiburan, perumahan, dan lapangan Golf. Karena kali tersebut memang terletak di tengah-tengah kota. Kali pesanggrahan adalah salah satu kali yang sudah tercemar oleh limbah, selain limbah pabrik yang berasal dari perindustrian di sekitar kali tersebut, limbah yang mencemari kali pesanggarahan juga disebabkan oleh sampah- sampah yang di buag di bantaran kali tersebut.


BAB IV
SOLUSI

            Pada kawasan yang sering terjadi banjir, Pemerintah DKI sudah membuat tanggul di bantaran kali pesenggrahan di titik yang sering terjadi banjir. Langkah ini di lakukan pemerintah untuk menaggulangi peristiwa banjir 4 tahunan yang terjadi di jakarta. Tanggul sudah di buat sepanjang 660 m. Proyek ini sudah di lakukan sejak tahun 2010 lalu, dan diperkirakan akan selesai pada bulan Desember lalu. Dan nyata nya sampai sekarang, proyek tersebut belum selesai.

            Kemudian pada tahun 2005 silam, pemerintah DKI telah membuat jembatan untuk kendaraan umum melintas. Hal ini juga salah satu solusi untuk mengurangi kerugian banjir. Yaitu agar jalur perekonomian di daerah setempat dapat terus berjalan tanpa gangguan banjir yang selama ini menghambat jalan nya kendaraan yang melintas. Khusus nya di daerah Cipulir, yang di lalui oleh kali pesanggrahan tersebut.

            Lalu pemerintah membuat proyek lain untuk menanggulangi banjir yang sering terjadi ini. Pemerintah DKI melakukan pelebaran kali. Tanggul yang sudah dibuat sebelum nya akan di geser melebar agar dapat menampung volume air yang lebih banyak.